Kamis, 22 Desember 2011

Tips Mendisiplikan Siswa Tanpa Harus Menghukum


View Original http://gurukreatif.wordpress.com


Institusi sekolah erat kaitannya dengan disiplin. Bahkan di jaman tahun 80 an sekolah-sekolah yang dianggap baik terkenal karena peraturan yang ketat dan disiplin yang tinggi.  “Sekolah itu bagus karena disiplin nya kuat sekali, buktinya tiap ada anak yang melanggar peraturan dihukum dengan hukuman yang berat.” Komentar para orang tua siswa di jaman itu.  Demikian lah di jaman itu sekolah yang pandai menghukum siswa nya dengan hukuman berat malah diburu para calon orang tua siswa.
Banyak pihak yang masih menghubungkan penegakan disiplin di sekolah  dengan menghukum siswa. Padahal kedua-dua nya tidak saling berhubungan. Karena terbukti penegakan disiplin dengan hukuman hanya akan membuahkan sikap disiplin yang semu yang lahir karena ketakutan bukan karena lahirnya kesadar an akan perbaikan perilaku.
Sebenarnya ada jalan tengah diantara disiplin dan menghukum . Jalan tengah itu disebut konsekuensi. Sebuah konsekuensi berarti menempatkan siswa sebagai subyek. Seorang siswa yang dijadikan subyek berarti diberikan tanggung jawab seluas-luas nya dengan konsekuensi sebagai batasan.
Siswa terlambat masuk sekolah ? solusinya dia terkena konsekensi pulang lebih telat dari yang lainnya, atau waktu istirahat dan bermain dipotong . Jangan sampai disitu saja, bicarakan hal ini dengan orang tua siswa, karena mungkin masalah timbul bukan karena si anak tapi karena masalah orang tua.
Dalam mengatasi masalah terlambat masuk sekolah ini saya punya contoh menarik. Tidak jauh dari tempat tinggal saya  ada sebuah sekolah menengah atas yang memilih mengunci pintu gerbangnya setiap jam 7 pagi tepat. Anda bisa bayangkan mereka yang terlambat akan kesulitan untuk masuk karena pintu gerbang sudah terkunci.  Setiap hari akan ada sekitar 10 orang siswa  yang tertahan diluar menjadi tontonan warga sekitar yang lewat di depan sekolah tersebut.  Padahal mereka yang terlambat belum tentu malas, bisa saja karena alasan cuaca atau hal-hal lain yang tidk bisa dihindari.
Alasan pihak sekolah mungkin bisa diterima, tindakan mengunci gerbang diambil atas nama penegakkan disiplin dan membuat siswa menjadi sadar akan pentingnya datang tepat waktu ke sekolah. Tapi sadarkah pihak sekolah bahwa mengunci siswa di luar bisa mempermalukan harga diri sisw?  Bagaimana bila tetangga atau orang-orang yang mengenali mereka lewat saat mereka terkunci di luar.
Padahal saat sekolah mau menerapkan konsekuensi atas siswa yang terlambat, banyak tindakan yang bisa dilakukan, dari memotong jam istirahat sampai meminta mereka masuk sekolah di hari Sabtu atau Minggu saat teman -temannya libur. Dengan demikian harga diri siswa terjaga dan siswa menjadi makin bertanggung jawab atas segala tindakan yang dilakukannya. Siswa juga menjadi sadar bahwa konsekuensi bertujuan untuk penyadaran dengan mengambil atau mengurangi hak istimewa mereka .
Mari kita mengenali apa itu hukuman dan konsekuensi
Hukuman
1.       Menjadikan siswa sebagai pihak yang tidak punya hak tawar menawar dan tidak berdaya. Guru menjadi pihak yang sangat berkuasa. Ingat “Power tends to corrupt”
2.       Jenisnya tergantung guru, apabila hati guru sedang senang maka siswa terlambat pun tidak akan dikunci diluar.
3.       Bisa dijatuhkan berlipat-lipat derajatnya  terutama bagi siswa yang sering melanggar peraturan.
4.       Guru cenderung memberi cap buruk bagi anak yang sering melanggar.
5.       Sifatnya selalu berupa ancaman
6.       Tidak boleh ada pihak yang tidak setuju, semua pihak harus setuju. Jadi sifatnya memaksa.
Konsekuensi
1.       Dijatuhkan saat ada perbuatan yang terjadi dan berdasarkan pada aturan yang telah disepakati.
2.       Sesuai dengan perilaku pelanggaran yang siswa lakukan.
3.       Menghindari memberi cap pada anak, dengan memberi cap jelek akan melahirkan stigma pada diri anak bahwa ia adalah pribadi yang berperilaku buruk untuk selama-lamanya.
4.       Membuat siswa bertanggung jawab pada pilihannya. Anda bisa mengatakan “Kevin kamu memilih untuk ribut pada saat bu guru sedang menerangkan maka silahkan duduk di luar selama 5 menit”. Dengan demikian anda menempatkan harga diri anak pada peringkat pertama. Bandingkan dengan perkataan ini “Kevin, dasar kamu anak tidak tahu peraturan,…. tukang ribut! Sana keluar….!

10 Ciri Guru Profesional



1. Selalu punya energi untuk siswanya 
Seorang guru yang baik menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi dengan mereka. Guru yang baik juga punya kemampuam mendengar dengan seksama.
2. Punya tujuan jelas untuk Pelajaran 
Seorang guru yang baik menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan bekerja untuk memenuhi tujuan tertentu dalam setiap kelas.
3. Punya keterampilan mendisiplinkan yang efektif 
Seorang guru yang baik memiliki keterampilan disiplin yang efektif sehingga bisa  mempromosikan perubahan perilaku positif di dalam kelas.
4. Punya keterampilan manajemen kelas yang baik
Seorang guru yang baik memiliki keterampilan manajemen kelas yang baik dan dapat memastikan perilaku siswa yang baik, saat siswa belajar dan bekerja sama secara efektif,  membiasakan menanamkan rasa hormat kepada seluruh komponen didalam kelas.

5. Bisa berkomunikasi dengan Baik Orang Tua 
Seorang guru yang baik menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua dan membuat mereka selalu update informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam kelas dalam hal kurikulum, disiplin, dan isu lainnya. Mereka membuat diri mereka selalu bersedia memenuhi  panggilan telepon, rapat, email dan sekarang, twitter.
6. Punya harapan yang tinggi pada siswa nya 
Seorang guru yang baik memiliki harapan yang tinggi dari siswa dan mendorong semua siswa dikelasnya untuk selalu bekerja dan mengerahkan potensi terbaik mereka.
7. Pengetahuan tentang Kurikulum 
Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan mendalam tentang kurikulum sekolah dan standar-standar lainnya. Mereka dengan sekuat tenaga  memastikan pengajaran mereka memenuhi standar-standar itu.
8. Pengetahuan tentang subyek yang diajarkan 
Hal ini mungkin sudah jelas, tetapi kadang-kadang diabaikan. Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan yang luar biasa dan antusiasme untuk subyek yang mereka ajarkan. Mereka siap untuk menjawab pertanyaan dan menyimpan bahan menarik bagi para siswa, bahkan bekerja sama dengan bidang studi lain demi pembelajaran yang kolaboratif.
9. Selalu memberikan yang terbaik  untuk Anak-anak dan proses Pengajaran 
Seorang guru yang baik bergairah mengajar dan bekerja dengan anak-anak. Mereka gembira bisa mempengaruhi siswa dalam kehidupan  mereka dan memahami dampak atau pengaruh yang mereka miliki dalam kehidupan siswanya, sekarang dan nanti ketika siswanya sudah beranjak dewasa.
10. Punya hubungan yang berkualitas dengan Siswa 
Seorang guru yang baik mengembangkan hubungan yang kuat dan saling hormat menghormati dengan siswa dan membangun hubungan yang dapat dipercaya.

After the Seminar "Movies for educational Purpose"



Tak ada guru yang paling hebat selain pengalaman. Guru-guru kita di SD, SMP, SMA, atau bahkan dosen-dosen kita di perkuliahan, seringkali tak memberikan apa yang diberikan oleh sebuah pengalaman. Dari pengalamanlah kita banyak belajar suatu hal yang tak diajarkan.
Seperti halnya hari ini. Alhamdulillah Allah memberikan kesehatan, dan kesempatan untuk ku datang ke Teater Salihara untuk mengikuti seminar Movies For Educational Purposes dan nonton bersama yang diselenggarakan oleh IGI. Tentunya seminar kali ini para pembicaranya adalah Agus Sampurno seorang Guru kreatif, Yadi Sugandi seorang sutradara film Hati Merdeka, dan juga oleh direktur program yaitu Dhitta Puti, yang akrab dipanggil Mba Puti.
Dari mereka hari ini aku belajar, serta sadar, bahwa anak-anak sekolah dari tingkat SD, SMP, bahkan SMA jaman sekarang, jaman abad 21 ini, sangatlah berbeda dari anak-anak sekolah jaman abad 20. Dimana dulu each learning selalu teacher center. Selalu guru yang `menyuapi` murid. Selalu guru yang berbicara, bergerak, mencontohkan, dan para siswa hanya duduk manis, melihat, memperhatikan, dan manggut-manggut entah mengerti atau pura-pura mengerti. Sekarang, di jaman serba teknologi, everything terlihat begitu tergantung dengan teknologi. Lihat, anak-anak SD jaman sekarang, hampir sebagian besar mengenal hp. Bahkan mereka bisa menggunakannya. Hampir sebagian besar anak-anak bangsa kita saat itu tidak lagi buta dengan teknologi. Mereka mengerti apa itu komputer, laptop, gameonline, dan banyak lagi permainan-permainan canggih saat ini. Jika dari cara dan alat-alat permainannya saja sudah berbeda, apalagi dengan cara mereka belajar?
Saat ini bukan lagi jamannya each learning is teacher center, but now, each learning is teacher n student center! Bukan lagi jamannya
membatasi ruang lingkup anak, membatasi pola pikir anak, bukan lagi guru yang terus menyuapi, tetapi sekarang sudah jamannya murid aktif. Guru bukan lagi sebagai orang yang ditakuti dikelas. Melainkan menjadi fasilitator yang baik untuk murid-murid.
Sekarang juga bukan lagi hal yang aneh ketika dalam pembelajaran seorang guru memutar film singkat, atau film berdurasi panjang. Tapi bukan hanya sekedar film. Namun, film yang dipertontonkan adalah film yang baik, bermutu, tentunya ada nilai edukasi di dalamnya. Kalau kata pa Agus tadi, menonton bukanlah menjadikan guru malas, akan tetapi ia ingin menjadikan siswanya `paham` dengan cara yang berbeda. Belajar dengan menampilkan sedikit film tentunya sangat menarik sekali untuk siswa-siswa kita, karena mereka saat ini adalah anak-anak jamannya visual. Dengan adanya film singkat pun guru sedikit terbantu untuk menjelaskan suatu materi.
Tidak semua film menampilkan suatu hal yang buruk, jika kita mau memilahnya. Diantra 10 yang rijek, pasti ada 2 atau 3 yang perfect (bagus). Seperti kata Pa Agus tadi di seminar tadi, beliau mengatakan “I here and I forget, I see and I remember, I do and I understand.” So, lakukanlah yang terbaik dan perubahan untuk anak-anak didik kita..jangan pernah berhenti belajar dari pengalamn kita. Selalu ada pelajaran yang tersimpan di setiap kejadian yang kita lalui.
Sungguh membakar semangat dalam jiwa setelah mengikuti seminar kali ini. Semua terasa menendang! Menohok! Kedalam pikiran dan hati. Semoga IGI lebih sering mengadakan seminar yang mantaf seperti ini.. amin… I hope..

Sabtu, 10 Desember 2011

Peraturan Kebersihan

suasana kamar setelah diterapkan peraturan


Sejak tanggal 5 Desember 2011 yang lalu, mulai diterapkan peraturan baru mengenai kebersihan. Setiap santri akhwat maupun ikwan berkewajiban menjaga kebersihan lingkungan gurfah, tempat belajar, kelas, maupun masjid. Bagi siapapun yang melanggar, maka dikenakan denda Rp 50.000 untuk gurfah dan Rp 100.000 untuk selain gurfah. Dan denda itu dibebankan kepada seluruh santri (sesuai bagiannya. Jika yang melanggar akhwat, denda seluruh santri akhwat, jika yang melanggar ikhwan denda seluruh santri ikhwan), walaupun hanya satu orang yang melanggar. Untuk membayar denda anak santri dilarang meminta kepada orangtua, mau tidak mau mereka harus memotong uang jajan mereka. Hal ini bertujuan melatih mereka bertanggung jawab dengan apa yang telah mereka lakukan. Uang dari hasil denda itu pun akan dialokasikan untuk perbaikan fasilitas-fasilitas yang dengan sengaja atau tanpa sengaja mereka rusak. Dan hasil dari peraturan ini sangat berdampak baik kepada seluruh santri. Dengan adanya peraturan ini keadaan gurfan dan lingkungan pesantren lainnya sudah lebih bersih dan lebih rapih. Peraturan ini pun diadakan guna membuat anak-anak santri kita bertanggung jawab terhadap lingkungan tempat tingggal mereka. Membuat mereka bertanggung jawab menjaga kebersihan tempat tinggal mereka guna demi kesehatan mereka juga.

Sabtu, 03 Desember 2011

keunggulan di bidang tahfidz


Ketika banyak orang yang mengucilkan kami dan menganggap kami remeh, kami cukup tersenyum, dan bertekad untuk membuktikan, bahwa kami mampu membuktikan keunggulan kami. Karena, walau kami kecil bukan berarti kami dapat dikucilkan, dan walau biaya pendidikan di kami murah, bukan berarti kami murahan. Tapi kami mampu memberikan yang terbaik dan mewujudkan nilai-nilai keunggulan kami. Salah satunya dalam bidang tahfidz (hafalan Qur`an).
Salah satu nilai keunggulan kami adalah para siswa atau santri hafal minimal tiga juz dalam jangka waktu tiga tahun. Dan kami ingin membuktikan bahwa hal itu kini terbukti. Salah satunya adalah santri kami yang belum genap dua tahun berada di pesantren dan Mts ini sudah memiliki hafalan mencapai 6juz.
Rizki Ahmadian
Ia bernama Rizki Ahmadian. Lahir di Bogor 7 Desember 1997. Tinggal di Kp. Padurenan Rt 06/03 Cibinong Bogor. Saat ini ia  masih duduk di bangku kelas VIII Mts. Al-Iltizam. Memiliki hobi bermain sepak bola. Dan memiliki cita-cita sebagai dosen. Saat di kelas VII lalu, ia memulai hafalannya dari surat An-Nas – Al Hadid. Dan mulai kelas VIII ini ia melanjutkan dari Al-Waqiah dan saat ini sudah di surat As-Syura.
Ini lah hasil kesungguhan kami menyemangati anak-anak kami dan meyakini mereka bahwa segala sesuatu yang terlihat sulit akan mudah dijalani ketika kita yakin kita bisa dan Allah pun selalu ada untuk menolong kita.